Skip to main content

Posts

I'm a Retired Deaf Activist

I was born to a Deaf person in the middle of a hearing family who does not know sign language and grew up in different ways, neither in the Deaf world nor the hearing world. I studied at a Deaf school using a read-lips method and a mainstream school. So, I'm also a former mainstreamed school alumnus. What was the experience I have become a Deaf person? It was a thrilling journey. Living in an unfriendly country always be challenging. I sometimes was asked why was I born like that and why was I stuck at this family who doesn't know sign language. It felt unfair, though.  I had been an activist since June 2016 and joined Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli untuk Indonesia) which is a Deaf organization. I worked lots-- such as an interpreter, sign language teacher, public speaker, event committee, coordinator, and lead the group, etc-- and had experienced lots, which downs and ups. It was mixed feelings. Being an activist that what you see it looks fun and cool but either t...

Banyak PR Untuk Indonesia

Isyarat " setara " dalam international sign Kemarin saya mendapat kabar sedih bahwa Tonan, seorang Tuli telah berbagi pengalaman buruknya dengan pelayanan buruk yang diberikan kepada satpam dan karyawan dengar. Satpam dan karyawan dengar telah berperilaku diskriminatif terhadap orang Tuli. Dia diundang untuk wawancara dengan Grab Indonesia tetapi sayangnya, dia harus mengalami ketidakadilan dengan Grab Indonesia. Selengkapnya bisa dilihat di Instagram (link: instagram.com/tagorenatodinigrat, lihat gambar hitam putih bertuliskan "Pengalaman anak tuli menerima undangan interview di GRAB. I think it's INHUMANE.". Rangkuman bahasa Inggris yang dapat Anda lihat melalui tautan instagram.com/suryasahetapy, lihat video di mana ia berbicara tentang pernyataan "sekutu Tuli/ Deaf ally", diskriminasi terhadap orang Tuli, dan pengalaman hidupnya sebagai orang Tuli). Itu bukan pertama kalinya, Grab melakukan tindakan diskriminasi yang memalukan terhadap orang Tuli, ...

A lot of Jobs to Done For Indonesia

Signed " equality " in international sign Yesterday I got a piece of the sad news that Tonan, a Deaf guy has shared his terrible experience with an awful service that was given to the hearing security guard and employees. Hearing security guard and employees had behaved discriminated against Deaf people. He was invited to interview with Grab Indonesia but unfortunately, he had to experienced injustice with Grab Indonesia. More continued that you can see it on Instagram (link: instagram.com/tagorenatodinigrat, see a black and white picture written "Pengalaman anak tuli menerima undangan interview di GRAB. I think it was INHUMANE." but the caption is only available Indonesian. The English summary you can see it through the link is instagram.com/suryasahetapy, see the video where he addressed on statement "Deaf ally", discrimination against Deaf people, and his life experience as a Deaf person). That's not the first time, Grab did a piece shameful discrim...

SEBERAPA PENTING SEPAKBOLA WANITA DI SURAKARTA? (Indonesian Translation)

Saya lahir di Sragen dan besar di kota yang berbeda, Wonosobo (9 tahun), Surakarta (6 tahun), dan sekarang di Yogyakarta (4 tahun), mungkin saya akan pindah lagi. Ini benar-benar menjadi nomaden. Tapi, Solo adalah kampung halaman saya. Di mana orang tua saya berasal dan dibesarkan, sedangkan mereka lahir dan besar di Sragen yang hanya berjarak 21 miles atau 34 km. Saya menghabiskan enam tahun di Solo jadi saya mungkin lebih singkat daripada waktu saya di Wonosobo. Namun, Solo akan menjadi kampung halaman saya. Saya tidak bisa berbahasa Jawa, tapi bukan berarti saya tidak bisa menjadi orang Solo/ Surakarta, yang saya banggakan dimana saya dibesarkan. Tumbuh sebagai orang Solo, saya tidak pernah mendukung Persis Solo alias tim sepak bola karena saya benci sepak bola pria, 'sepak bola' apa pun meskipun saya Cules, penggemar FC Barcelona dan saya lebih dari penggemar olahraga Amerika penggemar, terutama American football dan basket. Tetapi dengan meluncurkan tim sepak bola wanita p...

How Much Important The Women's Soccer in Surakarta?

(Source: https://www.persissolo.id/berita/persis-resmi-membentuk-tim-profesional-putri) I was born in Sragen and grew up in different cities, Wonosobo (9 years), Surakarta (6 years), and now in Yogyakarta (4 years), I would probably move again. This is literally being nomads. But, Solo is my hometown. Where are my parents come from and raised, meanwhile they were born and raised in Sragen which is just 21 miles. I spent six years in Solo so I might be a shortener than my time in Wonosobo. However, Solo is would be my hometown. I can't speak in Javanese, but it doesn't mean that I can not be a Solo/ Surakarta person, that I would proud of where was I raised.  Growing as a Solo person, I never support Persis Solo aka a soccer team because I hate men's soccer, any of a 'soccer thing' even though I'm a Cules, an FC Barcelona fan and I'm more of an American sports fanatic fan, especially football and basketball. But by launching a new professional women's soc...